SUKABUMI, Global Indonews.
Desa Wisata Hanjeli, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, bertransformasi menjadi ruang pertemuan yang penuh makna antara dunia akademik dan masyarakat luas. Sebanyak 103 dosen yang mewakili 46 perguruan tinggi dari berbagai wilayah di Indonesia berkumpul dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Kolaborasi ke-8, yang diselenggarakan oleh Universitas Persada Indonesia (UPI) Y.A.I bekerja sama dengan Yayasan Rumah Hanjeli Indonesia, pada 4โ5 September 2026.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam pemberdayaan masyarakat desa. Kehadiran puluhan dosen dari berbagai institusi, terutama kawasan Jabodetabek, menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat kini berkembang menjadi gerakan kolaboratif lintas disiplin ilmu dan lintas kampus, bukan lagi sekadar kegiatan tunggal satu institusi.
๐ค BERBAGAI KELOMPOK MASYARAKAT TERLIBAT AKTIF
Selama dua hari pelaksanaan, para peserta tidak hanya meninjau potensi Desa Wisata Hanjeli, tetapi terjun langsung berdiskusi dan memberikan pendampingan bersama masyarakat. Berbagai kelompok mitra turut hadir dan berpartisipasi aktif, antara lain:
- PKK dan kader desa
โ
- UMKM keripik, beras & bubur Hanjeli, serta aksesori Hanjeli
โ
- Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan pengelola homestay
โ
- Pengurus Yayasan Rumah Hanjeli Indonesia
โ
- Gapoktan Hanjeli
โ
- Kader Posyandu dan staf Puskesmas
โ
- Guru PAUD dan TK
โ
- Kader Bank Sampah
๐ก DISKUSI & SOLUSI BERSAMA MASYARAKAT
Dalam sesi diskusi, berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat diangkat dan dibahas bersama untuk dicarikan solusi serta peluang pengembangannya. Ruang lingkup pembahasan mencakup pengelolaan usaha, pemasaran, pengembangan produk, pelayanan wisata, pertanian, pendidikan, kesehatan, hingga lingkungan hidup, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok.
Pendekatan yang diterapkan menempatkan masyarakat sebagai mitra utama, bukan sekadar objek. Para dosen tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga mendengarkan pengalaman dan kebutuhan warga secara langsung. Dengan demikian, gagasan yang dirumuskan diharapkan sesuai dengan realitas lapangan dan dapat dikembangkan menjadi program yang berkelanjutan, bukan program yang terhenti setelah kegiatan selesai.
๐พ HANJELI: KOMODITAS PANGAN SEKALIGUS IDENTITAS DESA
Salah satu sorotan utama dalam kegiatan ini adalah pengembangan potensi Hanjeli โ tanaman pangan lokal yang kini berkembang menjadi identitas Desa Wisata Hanjeli itu sendiri. Beras dan bubur Hanjeli, berbagai produk olahan, serta produk kreatif berbasis Hanjeli menunjukkan bahwa komoditas lokal ini memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus menjadi daya tarik wisata yang khas.
Para peserta juga berkesempatan menikmati berbagai atraksi wisata dan berinteraksi langsung dengan warga, sehingga para akademisi dapat memahami secara utuh bahwa desa wisata bukan hanya soal destinasi, melainkan juga soal masyarakat, budaya, produk lokal, lingkungan, dan pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.
๐ฏ KOLABORASI 46 PERGURUAN TINGGI: KEKUATAN DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG
Keterlibatan 46 perguruan tinggi dengan latar belakang keilmuan yang beragam menjadi kekuatan tersendiri. Berbagai persoalan masyarakat dapat dilihat dari perspektif yang lebih luas dan menyeluruh, sehingga solusi yang ditawarkan lebih komprehensif. Kolaborasi ini juga membuka peluang kerja sama lanjutan dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Bagi UPI Y.A.I, kegiatan ini adalah wujud nyata pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi sekaligus komitmen menghadirkan manfaat ilmu pengetahuan di tengah masyarakat. Sementara bagi Yayasan Rumah Hanjeli Indonesia, kolaborasi ini menjadi pintu untuk memperluas jejaring dan mendapatkan perspektif baru dalam mengembangkan Desa Wisata Hanjeli.
๐ฎ MENJADI AWAL KOLABORASI YANG LEBIH PANJANG
Kegiatan dua hari ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda sesaat, melainkan menjadi titik awal kolaborasi jangka panjang. Berbagai persoalan, potensi, dan gagasan yang muncul selama kegiatan dapat menjadi dasar bagi program pendampingan, penelitian, inovasi, dan pengembangan masyarakat di masa mendatang.
Dari Desa Wisata Hanjeli, kolaborasi lintas perguruan tinggi kembali membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari desa. Ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan pengalaman masyarakat dan potensi lokal, lahirlah ruang untuk menciptakan inovasi yang lebih bermakna. Hanjeli bukan sekadar tujuan pengabdian, melainkan ruang perjumpaan antara ilmu, masyarakat, dan potensi lokal untuk membangun masa depan desa yang mandiri dan berkelanjutan.
(Tim Liputan / Desa Wisata Hanjeli, Sukabumi)